HomeHome  FAQFAQ  SearchSearch  MemberlistMemberlist  UsergroupsUsergroups  RegisterRegister  Log in  InfoInfo  
Log in
Username:
Password:
Log in automatically: 
:: I forgot my password
Link Pilihan
Search
 
 

Display results as :
 
Rechercher Advanced Search
Who is online?
In total there is 1 user online :: 0 Registered, 0 Hidden and 1 Guest :: 1 Bot

None

Most users ever online was 31 on Tue Apr 07, 2015 6:15 pm
Top posters
Juang
 
gaara
 
tolokminda
 
Admin
 
othman
 
faried
 
iltizam
 
masterpiece7070
 
lia
 
Payau Putih
 

Share | 
 

 Hidup Membuat Bakti, Menabur Budi

View previous topic View next topic Go down 
AuthorMessage
Juang
Sarjana
Sarjana


Posts : 1397
Points : 3808
Reputation : 4
Join date : 2010-07-25
Age : 39

PostSubject: Hidup Membuat Bakti, Menabur Budi   Thu Oct 14, 2010 5:25 am

Ramai manusia yang terkeliru dengan tujuan hidup mereka. Ada yang merasakan hidup ini kena jadi Yahudi, barulah mereka layak masuk syurga dan menjadi kekasih-kekasih Allah. Ada pula yang merasakan, mereka kena jadi Nasrani, barulah dapat petunjuk Allah. Ada juga yang merasakan, hidup ini kena beragama Islam, barulah kekal dalam syurga, dan seandainya masuk neraka sekali pun, hanya dalam tempoh tertentu sahaja. Itulah di antara kepercayaan-kepercayaan manusia yang boleh kita temui dalam Al Quran mahupun di depan mata-kepala kita hari ini.

Label akuan beragama Yahudi, Nasrani, Islam, Buddha, Hindu dan sebagainya itu tidak bernilai pun di sisi Allah. Sebab itulah dalam Al Quran ada mengatakan, baik manusia itu beriman, Yahudi, Nasrani mahu pun Sabiin, seandainya manusia itu berbuat kebaikan (membuat bakti dan menabur budi), pasti Allah berikan ganjaran yang secukupnya (sesuai dengan usaha yang dilakukan). Maknanya, penilaian Allah adalah pada usaha membuat bakti dan menabur budi itu, bukannya pada akuan menganut sesuatu agama. Hanya golongan masuk bakul angkat sendiri sahaja suka mengesklusifkan sesuatu perkara untuk perasan yang merekalah golongan yang diterima oleh Tuhan.

Meletakkan diri sebagai pencipta sesuatu produk dapat membantu kita memahami apa yang Allah mahukan daripada kita selaku hasil ciptaanNya. Jika kita mencipta kereta Kancil umpamanya, apakah kita berharap kereta itu mengaku dirinya sehebat Ferrari? Tak guna itu semua. Yang kita harapkan kereta Kancil itu dapat berfungsi sebaik mungkin mengikut spesifikasi ia diciptakan. Jika kereta Kancil itu dapat berfungsi dalam masa 15 tahun tanpa sebarang masalah teknikal yang besar, ia akan dilihat lebih bernilai daripada kereta Ferrari yang baru 2-3 tahun dikeluarkan, tetapi selalu keluar-masuk bengkel dan kita terpaksa membayar kos baik-pulih yang mahal. Dengan kata lain, sebagai pencipta, kita mahu hasil ciptaan tersebut dapat menjaga kualiti. Begitulah juga dengan manusia, kita sepatutnya menjaga kualiti diri selaku khalifah di muka bumi.

Kualiti diri manusia bukannya diukur berdasarkan akuan agama mereka. Pada perspektif Allah, manusia yang tinggi kualitinya adalah manusia yang banyak menyumbangkan bakti dan manfaat, seperti mana manusia mahukan produk-produk yang dapat berbakti dan memberi manfaat (perkara common sense). Kita tidak akan mencipta kereta agar kereta itu berlanggar sesama sendiri. Begitulah juga, Allah tidak mencipta manusia agar berperang sesama sendiri (peperangan yang disebutkan dalam Al Quran pun hanyalah untuk memadamkan api peperangan yang dinyalakan oleh orang-orang kafir yang tidak sabar bila kepercayaan tradisi mereka tidak diterima lagi).

Kalau kita lihat pelbagai kisah para Nabi yang disebutkan dalam Al Quran, penekanan pada kisah mereka adalah kebaktian-kebaktian yang mereka sumbangkan, bukannya akuan agama mereka atau amalan/upacara ritual. Sebab itulah sepanjang-panjang kisah hidup Nabi Ibrahim, Yusuf, Musa dan beberapa Nabi lagi (yang dikhabarkan atas nama Allah dan bukannya disandarkan atas nama si polan), Al Quran menekan tentang kebaktian-kebaktian yang mereka lakukan kepada masyarakat, bukannya pada rukun-rukun beritual mengadap matahari, bulan atau pun kiub batu. Biarlah matahari, bulan atau batu-batu itu berfungsi sebagai makhluk Tuhan. Bukannya dijadikan alat untuk menyekutukan Tuhan. Meletakkan sesuatu makhluk Tuhan itu tidak kena pada tempatnya adalah perbuatan yang tidak adil.

Oleh kerana Allah menilai manusia berdasarkan sumbangan, kebaktian dan budi-budi baik, maka berlumba-lumbalah mengumpul bekalan itu semua demi kesejahteraan bersama. Jangan kusutkan hidup dengan wujudkan puak-puak yang berbangga diri dengan kepercayaan tradisi. Ia hanya menyalakan api permusuhan yang tiada kesudahannya. Alangkah sia-sianya hidup manusia itu menghabiskan masa untuk berpuak-puak berbangga diri, sedangkan Allah menilai manusia pada amal bakti.
Back to top Go down
View user profile
masterpiece7070
Siswazah
Siswazah


Posts : 260
Points : 2564
Reputation : 0
Join date : 2010-08-20
Age : 35

PostSubject: Re: Hidup Membuat Bakti, Menabur Budi   Mon Oct 18, 2010 5:55 pm

Sad Sad Sad
Back to top Go down
View user profile
gaara
Sarjana
Sarjana


Posts : 1003
Points : 3361
Reputation : 1
Join date : 2010-07-24
Location : Malaysia

PostSubject: Re: Hidup Membuat Bakti, Menabur Budi   Tue Oct 19, 2010 1:27 am

Sad
Back to top Go down
View user profile
Sponsored content




PostSubject: Re: Hidup Membuat Bakti, Menabur Budi   Today at 1:42 pm

Back to top Go down
 
Hidup Membuat Bakti, Menabur Budi
View previous topic View next topic Back to top 
Page 1 of 1
 Similar topics
-
» Roma Katolik vs Kristen Protestan karya Pdt. Budi Asali, M. Div
» khotbah natal Pdt Budi Asali: Raja yang ditelanjangi
» Ibadah haji yang membuat muslim menjadi miskin
» perkenalkan seorg NABI yg hidup jaman sekarang
» cara membuat surat wasiat

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
E-Minda :: Minda :: Islam-
Jump to: